izaya troll

demon_heaven


in a world that only both of us survived—


Share Next Entry
[Fanfic] Keputusan
izaya troll
demon_heaven






Keputusan
Sebuah fanfiksi karya niedlichta

Death Note adalah properti sah milik Tsugumi Ohba dan Takesi Obata. Saya hanya menggunakan beberapa karakternya demi kesenangan pribadi, dan saya tidak meminta profit apapun dari fanfiksi ini.

oxoxoxo
 
Mello menatap ransel yang ada di atas tempat tidurnya—miris bercampur kesal, dan mungkin kekecewaan, menumpuk di ulu hatinya. Perih, rasanya seperti ada seseorang yang memainkan genderang di jantungnya dan itu berpengaruh ke hatinya—atau apalah. Dia menolak untuk memikirkannya lebih jauh.

Hal ini bukan hanya karena dia telah mengalami sore yang penuh dengan kalimat pengetes detak jantung—tetapi lebih mengarah kepada keputusan yang akan—bukan, yang telah dia ambil. Jujur, dia—dia tidak rela melakukan hal ini.

Tetapi—pilihan menyerahkan semuanya kepada bocah itu dan tetap beraksi di bawah bayang-bayang kesempurnaannya atau terbang keluar dan berusaha memecahkan masalah ini sendiri adalah hal yang retoris. Tidak mungkin seorang Mihael Jeevas membiarkan dirinya stagnan—berjalan di tempat, di bawah bayang-bayang. Tidak akan.

Meraih tas yang sejak tadi dia pandangi, ia teringat akan saat-saat pengambilan putusan ini terjadi.
oxoxoxo

‘L tewas.’

Detak jantung yang terhenti. Dua kata penuh penyesalan terlontar, dan balasan keluar dari bibir yang gemetar.

‘Lalu, L pilih siapa—Near atau aku?’

Helaan napas berat keluar sebelum kata-kata.

‘Sebelum sempat memilih... dia tewas duluan.’

Bahu yang lemas. Mata yang membelalak saat mendengar kalimat lanjutan yang tak kalah mengejutkannya.

‘Bagaimana kalau kau dan Near... Kalian bekerja sama?’

Tanpa sadar, gigitan di bibirnya telah mengeluarkan darah.

Anak itu. Dan dirinya. Bekerja sama?

Ekor mata Mello menusukkan pandangan kepada sosok berpostur kecil di sampingnya.

Cih.
oxoxoxo
 
Hal yang tak akan mungkin terjadi, ya, itu yang Mello pikirkan di kepalanya.

Dia bisa melakukan semuanya sendiri—bahkan tanpa Near atau siapapun—iya ‘kan?

Pemuda bersurai emas itu kini menatap cokelat batang yang ada di tangannya—hasil merogoh ransel sebelum menyandangkannya di punggung. Bekas gigitan di bibirnya tidak membantu mengembalikan selera makan sama sekali. Biasanya cokelat merupakan candu penghilang stres, zat penenang yang lebih ampuh daripada lima ampul obat bius—setidaknya bagi Mello—tapi tidak malam ini.

Karena malam ini—dia akan keluar dari tempat ini.

Sendiri.

Dan keluar bukan berarti kabur.

Dia tidak kabur. Dia tidak lari karena dia takut bersanding dengan Near—dia hanya muak menjadi yang kedua. Apapun yang dia lakukan akan selalu berada di bawah Near, harga dirinya selalu menolak untuk mengakui hal yang satuitu meski otaknya jauh lebih jujur—dan dia tidak akan maju jika dia terus berada di sini.

Dia sudah mengambil ini sebagai keputusan; ketetapan hidupnya, langkah yang harus dia ambil untuk dapat mengalahkan Near.
Karena—pemuda penggila cokelat itu sudah memikirkannya—jika dia tidak bisa mengalahkan Near dengan menjadi hal putih bernama keadilan, dia akan mencoba masuk ke hal hitam bernama kejahatan. Jika dia tidak bisa menggunakan CIA atau FBI, dia bisa menggunakan mafia, dan itu akan jauh lebih mudah.

Mafia jarang yang memiliki otak lebih. Kalaupun ada, pasti digunakan dengan cara yang idiot. Karena itu, dia akan mudah mengendalikan mereka—yang dipenuhi nafsu itu. Dia bukanlah seorang pengkhianat—dia yakin dia bukan salah satu dari para desertir di luar sana. Dia hanya...

... menemukan cara yang tidak biasa untuk mencapai sebuah tujuan, itu saja.

Kaki-kakinya sedikit lagi akan melangkah ke luar gerbang dengan mantap—namun suara di kepalanya terus memaksanya agar tidak menoleh ke belakang. Lupakan semua, atau dia akan tergoda untuk kembali. Ini adalah tindakan yang harus dia ambil, setidaknya hal ini sudah dia pikirkan selama bertahun-tahun—bahkan sebelum ada kejadian tadi sore—percayalah.

Hanya dia yang tahu kalau dia orang yang mudah panas dan langsung bertindak cepat—bahkan terlalu cepat dari pikirannya—meski begitu, dia percaya kalau itu adalah hal yang menjadi kelebihan sekaligus kekurangannya.

Dia bisa melakukan ini sendiri.

Dia yakin.

Hal yang dia perlukan hanyalah coklat, dan...

“...orang bodoh yang membantumu mengendalikan emosi.”

Mello nyaris tergelincir rumput basah saat sebuah suara mengagetkannya.

“Hai, Mello. Tidak kusangka kau akan benar-benar pergi,” dia merasakan sosok berambut merah itu berdiri di belakangnya, menaruh jari telunjuk di kepala Mello. Pemuda berambut kuning itu langsung mengernyit begitu merasakan jari tersebut mengantarkan bau tembakau ke hidungnya saat dia berbalik.

“Dan tidak kusangka juga kau masih merokok diam-diam di tempat yang sama,” dia memutar bola matanya. “Pergi.”

“Jadi arti kalimat ‘aku sudah hampir berumur 15 tahun’ itu memang benar-benar ‘aku akan pergi sendiri’, ya?” laki-laki berambut merah itu tidak memedulikan kata terakhir yang diucapkan temannya. “Dan, uh, setidaknya orang yang merokok diam-diam tidak akan membawa carry bag sebesar itu, kurasa.”

Mata beraura gelap milik pemuda dengan limit kesabaran rendah itu mengikuti ringisan sang teman hingga ke arah telunjuk pemuda itu mengarah sekarang—dan dia menemukan tas merah di samping gerbang.

Oh, bagus. Satu penghalang muncul.

“Ajak aku,” pinta pemuda tersebut dengan nada rendah.

“Dalam mimpimu, Matt,” Mello mendesis. “Aku tidak butuh penghalang ataupun bantuan—aku bisa melakukan apa yang kumau sendirian.”

“Dalam mimpimu, Mello,” Matt memutar matanya, mengembalikan kata-kata orang yang dianggapnya sahabat itu dengan nada bosan. “Kau tidak bisa mengalahkan Near sendirian—bahkan denganku, kau nyaris tidak bisa.”

Tepat sasaran. Mello menggemeretakkan gigi-giginya.

“Oh, ayolah. Aku tidak ahli dalam berbicara—dan kau juga tidak butuh perkataan saat ini.”

Mello hampir mundur selangkah saat dia merasa Matt maju ke arahnya—tapi dia menahan langkahnya. Tidak. Dia tidak akan takut dengan percobaan intimidasi oleh Matt. Tidak akan. Terlebih, saat jari-jari Matt menyapu rambut yang menutupi sisi wajah kirinya ke belakang telinga, dia hanya diam—mengakukan badan di sana.

“...kumohon, Mello,” napas hangat pemuda itu menggelitik telinga dan kulit Mello, terlebih ketika pemuda berambut sewarna darah itu menyandarkan kepala di bahunya. “Kau tahu kalau aku bukan penghalang.”

Mello masih membatu.

“Bukan kau yang tidak membutuhkan bantuan—aku yang membutuhkannya.”

“Kau mengatakan sesuatu yang konyol,” Mello ingin sekali meninju pemuda itu, jika dia tidak ingat kalau dia masih berada di lingkungan Wammy’s House. “Kau... masih baik-baik saja di sini.”

Pemuda berambut pirang itu meraih bahu temannya—setidaknya satu-satunya teman yang bisa dia percaya di sini—dan menatap zamrud Matt yang kelihatan menyala.

“Kau tidak perlu...” jeda sebentar untuk berpikir, “...kau tidak perlu repot-repot terjun denganku.”

Matt mengerti hal itu. Tapi dia menolak untuk mematuhinya.

“Ini keputusanku sendiri,” ujarnya kalem. “Kau terjun, aku akan menyusul—bahkan membawakanmu parasut. Kau pergi—maka aku juga.”

“Demi Tuhan, Matt!” Mello putus asa. “Apa kau tidak punya ambisi untuk jadi lebih baik atau apapun yang bisa membuatmu berpikir lebih jernih? Ini masalahku, dan kau tidak perlu—”

“Aku punya,” potong Matt. Tatapannya serius—dan Mello bersumpah dia tidak pernah merasakan kalau zamrud itu bisa mengeluarkan tatapan seperti ini. Napas mereka beradu karena kedekatan wajah mereka, dan tangan kanannya diperangkap oleh Matt agar dia tidak lari.

“Karena itu—aku ikut denganmu.”

“A—”

“Karena ambisiku adalah...” dia berusaha agar tatapan zamrud itu tidak mengintimidasinya, tapi gagal karena Matt lebih keras kepala darinya. “... kau.”

“...cih—dasar...”

Dan sekarang, di saat dia tahu bahwa membantah tidak lagi berguna dan lebih baik melangkah ke luar dengan bocah ini mengikutinya di belakang—Mello menyadari di mana kesalahannya.

Dia berhenti dan menoleh ke belakang.

Yah—setidaknya kini mereka memiliki keputusan yang serupa... meski dia tidak pernah menyangka kalau dia tidak akan sendirian lagi sekarang.

“Berhenti cengar-cengir di belakangku, Bodoh!”
oxoxoxo

Tamat

oxoxoxo
 



?

Log in