izaya troll

demon_heaven


in a world that only both of us survived—


Previous Entry Share Next Entry
[Fanfic] I'll Protect You (1/??) | Happy SasuNaru Day!
izaya troll
demon_heaven
Terbangun dengan situasi kepala berat sehabis mabuk semalaman bukanlah hal yang menyenangkan. Terlebih, jika kau berada di apartemen asing milik seseorang, di balik selimut tebal hangat yang baru saja kau lihat, tidak berbusana di atas matras sutera yang kusut, dan mendapati kalau baju-bajumu telah berserakan di bawah ranjang—

“...Demi. Tuhan.”

—dijamin, kau sendiri tidak akan tahu harus bereaksi seperti apa.
oxoxo

I’ll Protect You
Sebuah fanfiksi persembahan niedlichta

Naruto adalah properti sah milik Masashi Kishimoto. Saya hanyalah penggemar yang menggunakan karakternya untuk kesenangan pribadi—tanpa memungut keuntungan apapun.

Happy SasuNaru Day, Minna! (minus 9 xD)

Chapter one: The Worst Day

Have a nice read!

oxoxo

Uzumaki Naruto (23), seorang pegawai tetap di perusahaan IT ternama di Tokyo, mengunyah roti yang disiapkan di hadapannya dengan tak bersemangat. Mengingat kalau pemuda berambut durian itu biasa makan dengan aksi barbar, tentu saja ini adalah hal yang abnormal—dalam parameter Naruto Uzumaki(TM). Pantat yang berdenyut sakit bukanlah hal yang bisa memperbaiki mood, tentu saja.

Plus, mood jeleknya akibat sakit kepala pasca mabuk diperparah dengan lelucon nista oleh orang brengsek saat dia baru bangun tadi pagi.

[“Sudah bangun? Perlu kubuatkan nasi merah?”] (*)

Serius, begitu mendengar itu, Naruto ingin sekali mendorong pemuda tersebut dari apartemen di lantai 8 ini.

Uh, bukannya Naruto tidak berterima kasih pada pemuda berumur sembilan belas tahun itu—ya, kalian tidak salah baca, itu memang sembilan belas—yang telah membantunya untuk pulang dari bar tempat dia mabuk, terpeleset, basah karena hujan, dan membuatkannya roti dengan selai kacang pagi ini. Bukan. Tapi pikirkanlah, pemuda yang lebih muda itu juga yang membawanya dengan keadaan seperti ini—terbangun dengan kepala pusing, bagian belakang terasa ngilu, baju beterbangan, berkas merah di seluruh badannya—

—dan semburat merah sontak muncul di wajahnya. Sial. Menelan roti setebal lima sentimeter jadi serasa menelan sebuah piring. Sulit.

Sembari terbatuk, dia meraih-raih permukaan meja dalam jangkauannya—berharap kalau dia menemukan segelas air. Dan tentu, jika dari awal gelas bahkan tidak ada di atas meja, tangannya hanya akan meraih taplak. Miris.

“... Ini.”

Sebuah tangan pucat menyodorkan gelas berisi air mineral, dan Naruto bahkan hanya perlu mendengar suara itu untuk dapat menelan rotinya—demi bokong Patrick yang tidak mulus, laki-laki berambut hitam yang satu ini sepertinya punya hobi memompa jantung Naruto agar keluar dari kerangka tubuhnya.

“Oh, sudah tidak perlu air?” pemuda itu melemparkan nada menyindir—yang amat sangat kentara—sehingga Naruto harus menahan diri agar tidak mengoleskan selai kacang di hadapannya ke rambut pantat ayam milik orang tersebut. “Kau tidak perlu kelihatan sekesal itu, Idiot.”

“Dan menurutmu, kau tidak akan kesal jika kau terbangun dengan kepala pusing, bagian belakang terasa ngilu, baju beterbangan, berkas merah di seluruh tu—oh, cukup sudah dengan narasi ini!” Naruto mengacak-ngacak rambutnya sendiri, frustasi.

Sasuke mengernyitkan dahinya, dan laki-laki berambut pirang itu punya insting kalau pemuda di hadapannya menganggapnya sudah gila.

“Berhenti memandangku seperti itu!” telunjuk diarahkan ke depan, dengan semangat Bung Tomo yang sedang orasi. “Aku bahkan baru resmi berkenalan denganmu kemarin, dan kau sudah bisa mengintimidasiku dari pandangan? Serius, orang brengsek macam apa kau?”

“... Yah, setidaknya aku bukanlah orang idiot yang bengong dengan ekspresi tidak berharga saat melihat bajuku acak-acakan di bawah tempat tidur—setelah menyadari kalau dia terpeleset dengan sangat memalukan tadi malam,” dia menarik kursi di samping Naruto, lalu duduk—kemudia menyusun tomat, selada, dan timun di dalam rotinya, lalu menggigitnya—seolah menganggap hal yang baru saja dia katakan adalah hal ternormal di jagat raya.

Naruto hanya bisa menatap penuh dendam.

“Apa?” merasa kalau dirinya diperhatikan, Sasuke membuka mulutnya untuk bertanya.

“Tidak, hanya penasaran, otakmu yang katanya jenius itu kurasa kekurangan sesuatu yang dinamakan ‘hati nurani’,” pemuda berkulit coklat itu mendesis. Serius, bagian belakangnya sangat sakit saat ini—bahkan ketika dia hanya menggerakkannya untuk berbalik menatap meja.

“...” tidak ada balasan.

Naruto menolehkan kepalanya, hanya untuk mendapati bahwa pemuda berkulit putih di sebelahnya sedang mengamati... tubuh bagian bawahnya, dengan pandangan yang... sulit didefinisikan.

“Apa?” oh, serius, kali ini anak tunggal dari keluarga Uzumaki itu merasa puas karena bisa membalikkan pertanyaan dari sang Uchiha.
“... bagian belakangmu...” dia menggaruk kepalanya. “...apa benar—terasa sesakit... itu?”

Dan sebuah piring mendarat di kepala pantat ayam milik Sasuke.

-
 

“Huh. Apa benar pantatmu terasa sesakit itu, katanya,” jemari menekan tombol-tombol keyboard dengan lincah, mata fokus ke layar monitor, dan bibir yang tidak berhenti meracau sejak masuk kantor—Naruto sukses mendapati beberapa pasang mata memperhatikannya. “Oke, setidaknya pikirkan kek kalau aku mungkin merasa ga nyaman atau apalah ditanya seperti itu, atau gimana kek, atau apa gitu kek...” dia meremas mouse di tangan kanannya. “ARGH! ADA APA DENGANKU, TUHAN? KENAPA AKU TERJEBAK DENGAN ORANG SEMENYEBALKAN ITU KEMARIN?”

“... Naruto, aku tidak tahu apa yang terjadi padamu, tapi jika kau ingin menggalau ria, kau bisa melakukannya di luar,” Kiba yang kebetulan lewat untuk mengantarkan dokumen hampir saja kena tebasan tangan Naruto. “Dan—ada apa dengan pantatmu, kalau aku boleh tahu?”

“Bu—bukan urusanmu! Argh, taruh saja dokumen itu di sana dan BERHENTI NYENGIR! HEEEI, KEMARI KAU, KIBAAA!”

Catatan, ternyata lari anjing lumayan cepat. Naruto harus menambahkan itu di kepalanya sebelum dia merencanakan operasi-mutilasi-manusia-setengah-anjing di masa depan.

“Hhh... Serius, apa di sini tidak ada orang dewasa yang bisa bekerja dengan dewasa?”

Shino yang duduk di hadapan meja Naruto akhirnya buka mulut. Ternyata dia tidak tahan juga mendengar ledakan-ledakan dari mulut Naruto dan sindiran Kiba—mengejutkan.

Naruto hampir terpeleset dari kursinya.

“...dan kau menyebut bekerja sembari membawa-bawa kotak berisi serangga itu dewasa?”

“...oke, kita seri.”

Pemuda bersurai pirang itu memutar iris birunya, sebelum membetulkan kacamatanya dan kembali berkutat dengan layar komputer...setidaknya sampai sebuah tepukan di bahunya menghentikannya.

“Ja-di, kalau kau sudah bisa tenang...” uh-oh, suara itu. Tolong jangan bilang kalau Kiba sudah kembali dari larinya dan memulai interogasi dadakan di pagi buta. “...bisa tolong jelaskan pada kami... Apa yang sebenarnya terjadi pada pantatmu... Kemarin?” aura intimidasi terasa sangat kuat dari arah belakang, dan Naruto yakin kalau Kiba sudah menumbuhkan tanduk setannya.

“... Err...”

... Sialan.

-

 
“Pfft—jadi... Kau—pfft—” Kiba Inuzuka (24), nyaris mati karena sakit perut kronis. Rona merah karena malu dan marah jelas terpampang di wajah sahabatnya—dan sahabatnya itu jelas sekali mempunyai nafsu berlebih untuk menyumpal mulut Kiba dengan keyboard terdekat. “O-oke, oke, aku berhenti tertawa,” dia mengelap air matanya. “Tapi serius, itu kejadian terkonyol dalam sejarahmu hidup, Naruto.”

“Terima kasih telah memberitahuku, Sahabat,” balas pemuda berambut pirang itu dengan sarkastis. “Bukan mauku juga untuk mabuk akibat proposalku ditolak—dan terpeleset jatuh di depan bar saat hujan, sampai bagian belakangku terasa kram,” desisnya. “Plus, lihat ini—” dia menunjukkan berkas merah di tangan dan lehernya. “—ini bekas karena terkena aspal. Bisakah kau lebih perhatian terhadap temanmu yang malang ini?”

“Aww, ayolah, aku cuma bercanda,” Kiba menepuk-nepuk kepala Naruto, menenangkan pemuda itu. “Lagipula—kau pikir aku tidak khawatir? Kau datang ke kantor dengan mobilmu, tapi yang menyupir adalah pemuda yang bahkan tidak pernah muncul wajahnya di sekitarmu—jalanmu pincang—serta bercak mencuriakan di sekitar leher... Kukira kau telah di—” jitakan menghentikan omongan ngalor-ngidul Kiba.

Terimakasih untuk tangan Naruto.

“Sembarangan!” lelaki bermata safir itu masih menjitaki kepala hitam milik Kiba. “...tapi kau tahu... Tadi pagi aku juga kaget mendapati diriku tidak berbusana di atas ranjang asing—dan bajuku berserakan di bawah tempat tidur. Ugh.”

Andaikan Naruto diizinkan untuk bergulingan di tempat kerja, dia pasti sudah melakukannya sejak tadi.

“Yah—setidaknya dia orang baik, rela membukakan bajumu yang basah karena hujan dan terpeleset,” Kiba memasang pose berpikir. “Dan kurasa dia juga mengobati luka-lukamu. Lumayan hebat untuk bocah berusia sembilan belas tahun. Siapa namanya, Uchiha Sasuke? Kalian baru kenal kemarin, kan?”

“Hei, sembilan belas tahun itu bukan bocah,” Naruto memutar kepalanya, berusaha berpura-pura menangani pekerjaannya karena barusan ada atasan yang lewat. “...yah, kenalan resminya sih baru kemarin. Dia itu junior-ku di universitas—kami berada di jurusan yang sama, jadi aku tahu dia—sebab dia itu terkenal karena kejeniusannya. Dan lagi, dia juga langganan di bar tempat aku minum semalam,” pemuda berambut pirang itu memainkan pulpen di atas meja kerjanya, merasa kalau harus menjelaskan dengan panjang seperti ini sangat membosankan.

“Hooo,” Kiba membulatkan mulutnya. “Jadi karena dia merasa bertanggung jawab atas kakak kelasnya yang idiot ini, dia rela mengobati luka-lukamu dan membuka bajumu yang basah agar kau tidak masuk angin?”

“...begitulah,” kali ini, pulpen itu dimainkan di rambutnya. “Tapi kan setidaknya dia bisa memakaikan aku baju, bukannya membiarkan aku tidur tanpa busana seperti itu.”

Kali ini, Kiba memasang tampang jijik.

“Kau berharap dia memakaikan baju? Hih, sejak kapan pikiranmu jadi mirip homo?”

Kali ini, keyboard itu sukses disumpalkan Naruto ke mulut Kiba.

“Bukan itu maksudku, Bodoh!”

-


Hari ini adalah hari terburuk Naruto... setelah kemarin. Serius. Setelah kejadian tadi, dia ditegur oleh atasan, harus membeli keyboard baru, menjelaskan lagi kepada Kiba kalau alasan dia ingin dipakaikan baju oleh Sasuke adalah karena itu lebih baik daripada membiarkannya tidur tanpa busana di ranjang milik pemuda berambut raven itu—sementara si empunya malah tidur entah di mana. Dan sebagai bonus, Naruto mendapatkan tatapan aneh dari seluruh rekan kerjanya di ruangan itu—karena dia menjelaskannya dengan suara yang lebih besar daripada suara toa.(**)

Sepertinya nasib sedang berada di dalam mood yang tepat untuk menertawakannya.

“Brengsek!” Naruto tiba-tiba mengumpat saat sebuah kendaraan bermotor menyalip mobilnya. “Jalan lebih hati-hati lagi, bisa gak sih?”
Sialan. Pemuda dengan bekas luka mirip kumis di pipi itu tahu, tidak ada gunanya dia marah-marah seperti ini...dan lagi, itu bukan kesalahan orang yang mengemudi motor. Dia tadi sedang tidak fokus. Yup. Mengemudi sambil marah itu tidak disarankan, iya kan?

Terlebih, hari sedang hujan. Sabar.

Oh, sudahlah. Ini adalah akhir dari rentetan kejadian konyol itu. Dia tidak akan pernah berjumpa dengan Sasuke lagi seumur hidupnya, karena dia tidak akan pernah ke bar itu lagi. Plus, sejak awal mereka memang tidak benar-benar saling kenal, jadi itu bukan masalah besar.

...ya, bukan masalah besar, kok.

...ya, bukan masalah besar....

...tapi kenapa Naruto seperti melihat Sasuke di tengah hujan—di tempat penyebrangan di sana?

-

MUNGKIN, mungkin benar kalau nasib sedang ingin mengajaknya bermain-main. Atau mungkin juga Seseorang di Atas Sana sedang melemparkan dadu ujian untuknya. Karena saat ini, seorang Uzumaki Naruto, tengah dihadapi kenyataan kalau dia harus menyetir di tengah hujan, dengan seorang Uchiha Sasuke (yang basah, jangan lupakan ini) duduk di kursi penumpang, melihat ke luar jendela—kelihatan berpikir, seakan-akan dia membawa beban dunia ini di punggungnya.

Yah, bukannya Naruto ingin tahu apa yang dia pikirkan, sih. Dia cuma sedikit penasaran. Catat itu.

“Umm...” berusaha memecahkan keheningan yang menekan itu, Naruto memutuskan untuk bertanya. “Baru pulang kuliah?”

“Hn.”

“...o-oh, begitu.”

“...”

“...”

...oke, oke, sejak kapan seorang Uzumaki Naruto yang bermulut lebih besar dari babon yang kehilangan anak itu bisa diam selama ini?

Pemuda yang lebih tua menggaruk kepalanya dengan canggung. Sebenarnya dia ingin segera pulang untuk berganti baju—mengingat kalau baju yang dia pakai adalah baju (sedikit koyak dan lembab pasca tidak dijemur) yang kemarin—tapi, melihat keadaan Sasuke yang basah kuyup, itu tidak mungkin dia lakukan.

Yah... Hitung-hitung balas budi, deh. Mendingan mengantar Sasuke dulu, lalu dia langsung pulang ke rumahnya...

...yang kosong.

Yah, pulang ke rumah juga tidak ada siapa-siapa. Kosong, sepi, hampa. Keadaan rumahnya memang selalu seperti itu sejak dia lulus SMA... karena kedua orang tuanya meninggal akibat kecelakaan. Dia kurang-lebih sudah terbiasa dengan hal itu, jadi itu tidak menjadi masalah... seharusnya. Terkadang, dia tidak bisa menampik bahwa dia merasa kekosongan itu sangat, sangat tidak nyaman.

Pemuda pirang itu menghela napas berat.

“Kalau tidak mau mengantarku, tidak usah. Jangan menghela napas seperti membawa beban dunia di punggungmu begitu, Idiot.”

“A—!” kepala pirang itu langsung menoleh ke samping dengan kecepatan cahaya. “Bukan begitu—aku—argh, sialan! Kau sendiri, dari tadi diam, sok melakonlis, melirik ke luar jendela seperti banyak hal di pikiranmu yang perlu kau muntahkan! Harusnya aku yang bertanya seperti itu, Brengsek!”

“Apa yang ada di pikiranku bukan urusanmu,” balas pemuda berkulit pucat, pandangannya acuh-tak-acuh, tangan berada di dagu. “Plus, aku memang benci bicara. Dan juga orang yang banyak bicara.”

“Ka—kau!” merasa kalau wajahnya memerah karena emosi, Naruto tidak tahu harus berkata apa. “Kalau kau tidak mau diantar ya sudah! Aku cuma mau membalas budi saja, Brengsek! Kau—”

Perkataan Naruto terhenti saat melihat keadaan Sasuke yang tiba-tiba menumpukan kening di tangannya. Tangannya yang satu lagi mencengkram dashboard mobil kuat-kuat, dan napasnya tidak beraturan...seperti orang yang sesak napas, tetapi wajahnya memerah.

“Hei, kau... Kau kenapa?”

-
 

“...dia cuma demam,” dokter wanita yang cantik itu, Tsunade, meletakkan kompres di kening Sasuke yang berkeringat. “Sepertinya, selain karena demam psikosomatis... dia main hujan semalaman. Ya ampun, mengapa kau tidak memperingatkan dia untuk tidak hujan-hujanan sebelum tidur, Naruto?”

...kenapa juga sih wanita ini harus tersenyum misterius seperti itu?

“...err—biar kuluruskan beberapa hal, Nek Tsunade,” Naruto berdehem untuk menghilangkan rona merah di wajahnya. “Pertama, aku, dia—dan apapun yang ada di pikiranmu—itu tidak benar, oke?” sedikit merinding karena membayangkan pikiran Tsunade dan rasa bersalah akibat membuat Sasuke sakit, Naruto mengusap belakang lehernya. “Kedua... Dia sakit—karena aku, mungkin itu benar.”

“Ya, ya, terserah,” wanita berdada besar itu menghela napas, sebelum membereskan peralatannya dan memakai jasnya. “Yang pasti, kau bertanggung jawab untuk mengurusnya.”

“Tunggu! Bukankah hal seperti ini harus dilaporkan pada orang tuanya? Seingatku, keluarga Uchiha tinggal di Kyoto, ‘kan? Hubungi saja mereka dan—”

Tsunade menghela napas berat. Dari sudut pandang Naruto, perempuan yang kelihatan lebih muda dari umurnya itu seperti akan mengatakan sesuatu yang sangat, sangat menyedihkan. Pemuda berambut pirang itu akhirnya memutuskan untuk menutup mulutnya saat wanita berambut pirang pucat itu melintasi ruangan dan duduk di tempat tidur, di mana Sasuke berbaring dan tertidur.

“Yah, soal itu... Mungkin ini hanya rumor—” Tsunade mengusap pipi pucat yang memerah itu. “Tapi mendengar kalau sampai sekarang mereka belum muncul-muncul juga setelah sebulan yang lalu, aku jadi percaya...”

Naruto menelan ludah.

“...bahwa seluruh keluarga Uchiha bunuh diri saat tahu perusahaan mereka bangkrut.”

-

 
Setelah kepulangan Tsunade, pemuda bermata biru itu terus termenung di hadapan komputernya. Memang benar, dari berita-berita sejak sebulan yang lalu, dia mendapatkan rumor kalau keluarga Uchiha—alias orang tua dan kakak Sasuke—dinyatakan menghilang saat mereka berlibur ke gunung Fuji...dan mereka tidak ditemukan sampai hari ini. Kebangkrutan perusahaan mereka juga muncul di beberapa surat kabar ekonomi ternama, jadi semuanya bisa masuk ke logika Naruto.

Dia menghela napas sebelum meletakkan kacamatanya di depan monitor.

Kenapa juga dia harus terbawa-bawa dalam masalah hidup orang lain seperti ini? Hei, oke, mungkin dia sedikit bertanggung jawab atas demam Sasuke—dia selalu ingin menjedukkan kepalanya ke dinding ketika mengingat fakta konyol ini—tetapi setelah tahu latar belakangnya, demam Sasuke sepertinya tidak cuma disebabkan oleh air hujan.(***)

Dan tentu saja, ini semua di luar tanggung jawabnya.

Kepala pirang itu menoleh ke belakang saat mendengar suara selimut yang ditarik.

“Hng? Sudah bangun, Sasuke?” Naruto bersumpah dia mendengar bunyi twitch saat dia mengucapkan nama kecil pemuda di hadapannya dengan kelewat kasual. “Panasmu sudah turun?”

“Di mana pakaianku?” mengacuhkan pertanyaan dari Naruto, Sasuke meneruskan langkahnya sembari berusaha menahan selimut itu di tempatnya agar tidak jatuh—dan Naruto harus berusaha sangat keras untuk tidak tertawa melihat pemandangan itu. “Aku bertanya di mana pakaianku, Bodoh!”

Apa itu semburat merah di pipinya? Aww, dia manis sekali.

....sebentar, Naruto butuh waktu untuk menjedotkan kepalanya ke atas meja agar pemikiran absurd-nya bisa hilang.

“Aduh...” pemuda berkulit coklat itu mengusap jidatnya yang memerah. “Bajumu basah, jadi kukeringkan di mesin cuci. Pakai bajuku dulu aja, tuh, udah kuletakkan di meja di samping tempat tidur.”

“...” setelah melemparkan pandangan apa-kau-sudah-gila kepada Naruto, lelaki berbajukan selimut itu mengintip layar monitor Naruto sekilas. “...kau stalker?”

Sumpah, ini kedua kalinya kepala Naruto berpaling secepat kilat untuk hari ini.

“Bu—argh, kau mengajak berkelahi?” lagi, telunjuk itu nyaris menusuk hidung Sasuke. Yang ditunjuk hanya mengernyit sebelum menutup tab Google Chrome yang sedang membuka beberapa berita tentang keluarganya itu.

“Kau sudah tahu?” lagi, mengacuhkan perkataan Naruto, Sasuke duduk di kursi yang ditinggalkan Naruto karena dia berdiri. Naruto bersumpah kalau dia tidak terpana dengan kulit putih susu yang dimiliki punggung pemuda itu. “Jadi, kau akan mengasihaniku seperti orang lain?”

“Huh?” tersadar dari pemandangan di hadapannya, Naruto mengernyitkan kening. “Maksudmu apa?”

Tidak butuh waktu lama bagi Naruto untuk menyadari kalau badan Sasuke bergetar.

“Jangan pura-pura bodoh!” dia melemparkan kacamata yang ada di hadapannya ke Naruto, wajahnya memerah karena menahan emosi, matanya sedikit berair. “Kau juga sama seperti mereka, kan? Kau akan berpura-pura baik, mengatakan kalau kau simpati karena keadaanku, lalu terakhirnya kau akan pergi setelah kau mengetahui kalau perusahaan Uchiha benar-benar telah bangkrut! Kau juga akan memperko—”

“Sasuke, tenanglah!” Naruto mencengkram bahu Sasuke, kuat. Melihat pemuda yang selalu berwajah datar saat berpapasan dengannya menjadi kehilangan kontrol seperti ini, mau tak mau dia jadi merasa panik juga. “Tenang, oke? Aku bukan mereka, jadi tenanglah... ya? Kumohon?”

Sasuke meronta saat Naruto mengambil gerakan ingin mendekapnya.

“Jangan sentuh aku,” dia menggeram. “Aku pulang sendiri.”

“Apa kau bodoh?! Siapa yang selalu dapat nilai A di setiap mata kuliah itu, anak kecil yang labil seperti kau?” Naruto menarik tangan putih itu. “Demammu belum sembuh!”

“Lalu? Karena demam begini saja, kau kira aku akan tumbang? Terima kasih, aku tidak butuh simpatimu.”

“Apa maksudmu ‘begini saja’? Suhu tubuhmu 39 derajat saat diukur, Brengsek! Sekarang pakai bajumu dan tidur atau kau akan kuangkat dan kurantai di atas tempat tidur!”

“Sudah kubilang aku tidak butuh simpatimu! Kau kira aku...” Sasuke berjalan menjauhi Naruto dengan langkah yang sengaja dihentakkan, tangan sibuk membetulkan posisi selimutnya...sebelum dia sadar kalau dia menginjak selimut itu dan...

...terpeleset dengan sukses.

“...”

“...”

“...lihat? Sudah kubilang, kau masih sakit,” Naruto memutuskan untuk tidak tertawa, karena yang dihadapinya saat ini adalah orang yang keadaan mentalnya sedang tidak stabil. “Aku tidak tahu apa masalahmu sebelumnya, tapi aku bukanlah orang yang sama seperti orang-orang sialan seperti yang kau pikirkan,” dia mengernyit saat menyadari beberapa bercak merah di tubuh Sasuke—yang jelas tidak sama dengan berkas merah luka yang dia punya. “...dan aku juga tidak akan bertanya, aku tahu kalau itu sama sekali bukan urusanku.”

Sasuke masih terdiam di lantai, mata menolak untuk menatap iris biru Naruto. Kelihatannya dia berusaha menyerap kata-kata pemuda pirang itu—atau mungkin dia terlalu malu untuk bertindak, Naruto tidak tahu.

“Dan simpati? Apa itu? Aku hanya merasa bertanggung jawab karena mungkin aku yang membuatmu sakit. Jadi setidaknya... tinggallah sampai kau benar-benar sembuh, Sasuke. Aku akan melindungimu.”

“...kenapa? Kenapa kau begitu peduli padaku?”

“Karena aku temanmu.”

“...kita baru berkenalan dua hari yang lalu, dan kau menyebutku teman? Ha-ha, lucu sekali, Uzumaki.”

“Terserahmu, tapi aku merasa begitu. Atau, apa lebih bagus kalau aku jawab karena aku merasa bertanggung jawab atas sakitmu, seperti yang kubilang sebelumnya?”

“Hmph.”

Naruto menghela napas berat sebelum tersenyum dan mengulurkan tangannya ke Sasuke, yang tadi terjerembab dengan bunyi yang lumayan keras, hanya untuk menerima tepisan dari pemuda itu.

“...sok kuat,” gumamnya, membiarkan pemuda yang baru saja jatuh itu berjalan mengambil baju hitam yang telah dia siapkan. Sasuke masih menghindari tatapan dari pemuda itu dan memakai baju dengan santai—membuat Naruto merasa kalau kacamatanya yang kini tergeletak di lantai itu menarik secara tiba-tiba.

Naruto menghela napas lega saat mendapati Sasuke telah selesai memakai baju, tapi dia mengernyitkan keningnya saat melihat lelaki yang lebih muda itu dan berjalan ke luar.

“Hei! Kau mau ke mana?”

“Pulang.”

“Kau—masih saja...” Naruto menggeram, mengepalkan tangannya. “Oke, terserah kau! Pulang ke mana saja atau pingsan di tengah jalan, aku tidak peduli! Dasar keras kepa—”

“—untuk mengambil barang-barangku.”

“...huh?” vakum sejenak. Otak Naruto butuh proses untuk memikirkan maksud dari perkataan itu... dan dia mendengar Sasuke menghela napasnya sebelum berbalik menatapnya.

“Karena kau keras kepala,” dia menyilangkan tangannya dan bersender di pintu kamar, menatap Naruto dengan pandangan kaku. “Jadi aku memutuskan untuk tinggal di sini denganmu.”

“HUH?”

“Tabungan keluargaku juga sudah habis untuk membayar hutang perusahaan,” dia masih memasang mata kaku itu, tapi mulutnya jelas menyeringai. “Dan aku menyewa apartemen itu, bukan membelinya. Kurasa ini lebih baik karena aku malas menerima tagihan itu lagi...bukankah begitu, orang-yang-akan-melindungiku?”

Seringai itu semakin lebar.

“HUUUH?”

Dan Naruto, masih terlalu shock untuk bereaksi seperti apa.

{Worst day, just state this day as the worst day,
Because I don’t know what will happen to me next after these chaos,
Nor do I know what awaits for me tomorrow,
Will you be my lucky charm or made my day become worse?
So, just state this day as the worst day}

niedlichta

End of The Worst Day

Catatan kaki:
(*)nasi merah di Jepang berlaku sebagai simbol untuk merayakan sesuatu...atau dalam hal ini, merayakan MALAM PERTAMA. Sasuke ngejek Naruto karena dia bangun tanpa baju dan bengong ngeliatin bajunya seakan-akan dia barusan di...oke, you know what I mean 8D #dor

(**)
in case you didn’t get it, toa itu adalah merek speaker yang biasanya dipakai buat ngomong, “Pengumuman, pengumuman...”

(***)demam psikosomatis. Kalo orang terlalu banyak masalah/mikir, bisa sakit juga karena stress. Jadi menurut Naruto dan diagnosa Tsunade, Sasuke ga sakit cuma gara-gara main hujan, tapi karena banyak pikiran juga.


Yaah, dan itulah chapter satunya. *tunjuk-tunjuk jari a la Hinata* Serius, saya sebelumnya pengen bikin ini jadi oneshot, tapi entah kenapa malah jadi multichap. Tau gini saya mah nyelesaiin fic yang sebelumnya, bukannya bikin fic baru ;w; Tabestry Syndrome, I hate you ;w; *di-dor*

Hmmm—jadi... menurut temen-temen, gimana fanfic-nya? Membosankan, atau...? Yah, memang masih belum dijelaskan secara mendalam sih kenapa si Naruto bisa mabuk atau kenapa si Sasuke reaksinya begitu pas tahu Naruto nge-stalk berita keluarga dia...soalnya itu mau ditulis di chapter depan. Tama takut kalo ditulis sekarang, ini fic jadi berapa halaman coba ( -_-)‘’ Semoga chapter depan adalah chapter terakhir dan semoga bisa selesai pas SasuNaru Day ;w;)/ 

Berkenankah untuk memberi beberapa masukan dan komentar? Atau apresiasi dan kritik? :D

Terimakasih telah membaca~! <3

  • 1
ya ampun Tama..
saking fujoshi uda akut jd nyangka si naru di rape -///-
hahaha..
bagus kok Tama, ga membosankan . lanjut yaah :3
ganbatte!

Ahihihi sengaja kok itu dijadiin trap :p #dor Tapi--Tama sebenernya kurang suka buat model ketemu langsung raep-raepan, jadi untuk kasus Naruto, ga bakalan deh xD Umm, umm, jujur aja nih, Tama takut kalo pada ngira ini fanfic lame ahahahah orz Dan, dan, Naruto Tama buat pake kacamata di sini kalo kerja loh, Toraaa xD #yaterus Hehe. Makasi ya atas RnRnya! XD

jahahaha. dan anda sukses menipu saya u.u
ya sih.. kalo gitu, keliatannya gampangan gitu ..
ah nggak lame kok ..

ooo, cute yah kayaknya..
suke jg pake kacamata ya? /hah?
okiii.. welcome :)
eh kira2 Tama kapan updet chap 2? hehehe

Nyahahahahaha XD
Lucu daaaah, Naruto menggaje gitu di kantor~~~ Parah parah~~~ #ngakakguling2

Sial bangey dah nasib Naruto~~~ tapi tenang~ dibalik kesialan itu pasti nanti dapet balesan sebaliknya~~~~ XD

Ternyata Sasuke dibuat lebih muda toh daripada Naruto~ Yah, kenyataan juga kalau Sasuke (gede sekarang ini) emang lebih childish daripada Naruto, labilnya ga ketulungan dah~~~ (yay)

Yosh, akhirnya saya review juga sesuai janji saya~~~ ditunggu chap selanjutnya yaaa~ hehee

  • 1
?

Log in